Permendikdasmen 13/2025: Apa Artinya bagi Sekolah Mulai 2026?
Pemerintah baru saja menetapkan Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, sebagai penyempurnaan dari Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024. Berita baiknya: tidak ada kurikulum baru. Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka tetap berlaku. Namun ada hal penting yang harus dicatat: mulai tahun ajaran 2026, semua sekolah wajib menerapkan peraturan ini. Artinya, perubahan ini bukan hanya wacana, tetapi akan langsung terasa di kelas dan aktivitas sehari-hari di sekolah.
Jadi, apa yang berbeda?
Secara umum, Permendikdasmen 13/2025 menekankan beberapa hal utama:
- Pembelajaran mendalam (deep learning)
- Fleksibilitas dalam pelaksanaan pembelajaran
- Perubahan istilah Profil Pelajar Pancasila menjadi Profil Lulusan
- Penambahan koding dan kecerdasan buatan (AI) sebagai mata pelajaran pilihan
- Kegiatan kepanduan sebagai ekstrakurikuler wajib pilihan
Meskipun terdengar teknis, intinya sederhana: pendidikan harus lebih fokus pada kualitas lulusan, bukan sekadar menyelesaikan materi atau mengejar angka rapor.
Profil Lulusan: Tolok Ukur Keberhasilan Sekolah
Salah satu perubahan penting adalah istilah Profil Lulusan. Profil ini menggantikan istilah Profil Pelajar Pancasila dan menjadi arah bagi semua kegiatan belajar. Artinya, sekolah tidak hanya mengajarkan materi, tetapi juga menyiapkan peserta didik yang:
- Berpikir kritis
- Memiliki karakter kuat
- Adaptif menghadapi perubahan
- Melek teknologi
Bagi sekolah yang sudah terbiasa merencanakan pembelajaran secara reflektif, perubahan ini adalah penguatan. Namun bagi sekolah yang lebih fokus pada administratif, perubahan ini bisa terasa menantang—karena dibutuhkan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian yang terarah.
Pembelajaran Mendalam: Lebih dari Sekadar Menghafal
Konsep pembelajaran mendalam menekankan pemahaman, bukan hafalan. Guru dituntut untuk:
Menggali pemahaman siswa lewat diskusi dan proyek
Menghubungkan materi dengan konteks nyata
Memberi ruang berpikir kreatif dan kritis
Tentu saja, ini tidak mudah. Banyak guru masih membutuhkan pelatihan, pendampingan, dan waktu untuk menyesuaikan metode mengajar. Tanpa itu, pembelajaran mendalam bisa berakhir menjadi jargon yang hanya tertulis di dokumen.
Koding dan AI: Kesempatan, Bukan Beban
Permendikdasmen 13/2025 juga membuka pilihan mata pelajaran koding dan kecerdasan buatan (AI) di jenjang tertentu. Ini bukan kewajiban bagi semua sekolah, tetapi kesempatan bagi sekolah yang siap:
Mengembangkan literasi digital siswa
Memperkuat logika berpikir dan kreativitas
Mengenalkan etika penggunaan teknologi
Sekolah yang belum siap tetap bisa memulai dari integrasi literasi digital di mata pelajaran lain. Intinya: fleksibilitas adalah kuncinya.
Kepanduan: Membentuk Karakter Sejak Dini
Regulasi ini juga menegaskan kepanduan atau kepramukaan sebagai ekstrakurikuler wajib pilihan. Tujuannya: membangun karakter siswa melalui disiplin, kerja sama, dan kepemimpinan. Tapi ingat, jika kegiatan ini hanya formalitas, manfaatnya untuk karakter akan sulit tercapai.
Apa yang Harus Dilakukan Sekolah Sekarang?
Dengan wajib implementasi mulai 2026, sekolah perlu segera bersiap:
Menyusun tim implementasi: kepala sekolah, guru, dan pengawas harus terlibat.
Merevisi kurikulum satuan pendidikan (KSP) sesuai Profil Lulusan.
Menguatkan kompetensi guru lewat pelatihan internal, lesson study, atau komunitas MGMP.
Merencanakan integrasi teknologi dan AI secara bertahap.
Revitalisasi ekstrakurikuler kepanduan agar benar-benar mendukung pembentukan karakter.
Persiapan ini bukan sekadar formalitas. Ia menentukan apakah kebijakan baru akan menjadi penguatan pendidikan atau justru menambah beban sekolah.
Kesimpulan
Permendikdasmen 13/2025 bukan untuk ditakuti. Ia adalah arah baru pendidikan yang menekankan kualitas lulusan, fleksibilitas pembelajaran, dan penguatan karakter. Namun, keberhasilan implementasinya bergantung pada kesiapan sekolah, guru, dan pendampingan dari pemerintah.
Dengan penerapan wajib mulai 2026, semua pihak di sekolah perlu bergerak sekarang. Pendidikan berubah bukan karena regulasi diterbitkan, tetapi ketika kebijakan dipahami, dimaknai, dan dihidupkan di kelas. Inilah momen bagi sekolah untuk menyiapkan generasi yang kompeten, kreatif, dan berkarakter.
Komentar
Posting Komentar