Opini:Siswa Tidur di Kelas, Alarm yang Perlu Didengar
Fenomena siswa yang tertidur di kelas, baik saat pembelajaran maupun ujian, kini bukan lagi hal yang asing di banyak sekolah. Sebagai guru, saya menyaksikan langsung tren ini semakin sering terjadi. Mungkin bagi sebagian orang, ini tampak sepele, sekadar siswa yang mengantuk lalu tertidur. Namun jika kita mau melihat lebih dalam, ini adalah tanda bahaya yang seharusnya tidak kita abaikan.
Tidur di kelas seharusnya menjadi pintu masuk bagi kita untuk bertanya: ada apa dengan sistem pendidikan kita? Apakah benar siswa kehilangan semangat belajar? Atau justru lingkungan belajarnya yang tidak lagi ramah bagi mereka?
Kita tidak bisa serta-merta menyalahkan siswa. Banyak dari mereka datang ke sekolah dalam kondisi lelah. Beberapa harus bangun sejak subuh, menempuh perjalanan jauh, lalu menjalani aktivitas belajar yang padat dari pagi hingga sore. Pulang sekolah, mereka masih dihadapkan pada tumpukan tugas dan kegiatan tambahan. Akibatnya, tubuh mereka kehabisan energi. Wajar jika akhirnya rasa kantuk tak tertahankan.
Selain kelelahan fisik, ada pula faktor tekanan mental. Beban akademik yang tinggi, tuntutan prestasi, dan minimnya waktu istirahat menyebabkan stres yang menumpuk. Dalam kondisi ini, ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat tumbuh dan berkembang, justru menjadi tempat pelarian sementara dari kepenatan—dengan cara tertidur.
Di sisi lain, kita juga harus jujur mengakui bahwa tidak semua pembelajaran di kelas mampu membangkitkan semangat siswa. Metode pengajaran yang monoton, kurang interaktif, dan tidak kontekstual membuat siswa kehilangan keterlibatan. Kelas berubah menjadi rutinitas yang membosankan. Maka, jangan heran jika siswa lebih memilih memejamkan mata daripada membuka buku.
Menariknya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah meluncurkan program “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” pada akhir 2024. Salah satu kebiasaan utama yang didorong adalah tidur cepat. Kebiasaan ini diyakini membantu meningkatkan daya konsentrasi dan kesehatan fisik anak-anak, yang secara langsung berdampak pada kesiapan mereka dalam mengikuti pembelajaran keesokan harinya. Anak-anak yang cukup tidur lebih fokus, lebih sehat, dan lebih stabil secara emosional—faktor penting yang sering kali diabaikan dalam pembahasan pendidikan.
Lalu, apa yang bisa dilakukan?
Pertama, mari kita benahi cara kita mengajar. Guru bukan sekadar penyampai materi, tetapi fasilitator yang mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan bermakna. Variasi metode pembelajaran, pemanfaatan teknologi, serta keterkaitan materi dengan kehidupan nyata bisa menjadi jalan keluar.
Kedua, sekolah perlu mengevaluasi beban kurikulum dan jadwal kegiatan. Pendidikan tidak harus melelahkan. Justru pendidikan seharusnya memberi ruang bagi siswa untuk tumbuh sesuai potensi dan ritmenya masing-masing.
Ketiga, orang tua dan masyarakat perlu mendukung pola hidup sehat bagi anak-anak. Tidur yang cukup, asupan gizi yang baik, dan dukungan emosional sangat berpengaruh terhadap kesiapan anak dalam belajar.
Terakhir, penting bagi sekolah untuk menyediakan layanan konseling yang aktif dan mudah diakses. Siswa perlu diberi ruang untuk bercerita, didengar, dan didampingi, bukan hanya dinilai dan dituntut.
Fenomena siswa tidur di kelas bukan soal malas, tapi sinyal bahwa ada sistem yang perlu dibenahi. Sudah saatnya kita tidak menutup mata, tapi mendengar dan bertindak.
Komentar
Posting Komentar