Literasi Digital: Bukan Sekadar Bisa Pakai HP
Literasi Digital: Bukan Sekadar Bisa Pakai HP
Banyak orang merasa sudah “melek digital” hanya karena bisa mengoperasikan ponsel pintar, membuka media sosial, atau menggunakan aplikasi belajar. Padahal, literasi digital tidak sesederhana itu. Bisa memakai gawai belum tentu berarti paham cara berpikir, bersikap, dan bertanggung jawab di ruang digital.
Di sekolah, fenomena ini terlihat jelas. Siswa cepat mengakses informasi, tetapi lambat memilah kebenaran. Guru menggunakan teknologi, tetapi belum tentu kritis terhadap dampaknya. Di sinilah literasi digital menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar tren.
Apa Itu Literasi Digital Sebenarnya?
Literasi digital adalah kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan mencipta informasi secara bijak melalui teknologi digital. Artinya, literasi digital menyentuh tiga aspek utama:
Kognitif – mampu berpikir kritis terhadap informasi digital
Etis – sadar norma, sopan santun dan tanggung jawab
Teknis – mampu menggunakan teknologi secara fungsional
Jika hanya menguasai aspek teknis, maka seseorang belum literat secara digital.
Masalah Umum di Dunia Pendidikan
Dalam praktik pendidikan, setidaknya ada tiga persoalan yang sering muncul:
1. Mudah Percaya Informasi
Siswa (bahkan guru) sering menerima berita tanpa verifikasi. Judul provokatif langsung dibagikan, tanpa membaca isi atau mengecek sumber.
2. Media Sosial Mengalahkan Nalar
Konten viral lebih dipercaya daripada penjelasan ilmiah. Popularitas sering dianggap sebagai kebenaran.
3. AI Dipakai Tanpa Etika
Teknologi AI digunakan untuk menyelesaikan tugas, bukan untuk membantu berpikir. Akibatnya, proses belajar menjadi dangkal.
Literasi Digital dan Peran Sekolah
Sekolah tidak cukup hanya menyediakan Wi-Fi, Chromebook, atau platform digital. Yang lebih penting adalah mendidik cara berpikir digital.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan di kelas:
Membiasakan siswa memverifikasi sumber informasi
Mengajak diskusi tentang etika berkomentar di media sosial
Menggunakan AI sebagai alat bantu berpikir, bukan mesin jawaban
Mengaitkan pembelajaran dengan kasus nyata di dunia digital
Literasi digital bukan mata pelajaran tambahan, tetapi cara baru dalam mendidik.
Guru sebagai Teladan Literasi Digital
Guru adalah model utama. Cara guru bersikap di ruang digital akan ditiru siswa. Guru yang kritis, santun, dan reflektif di dunia maya sedang mengajarkan literasi digital secara nyata, meski tanpa ceramah panjang.
Sebaliknya, guru yang ikut menyebarkan informasi tanpa klarifikasi justru memperlemah pesan pendidikan.
Penutup: Dari Pengguna Menjadi Warga Digital
Literasi digital bertujuan mengubah kita dari sekadar pengguna teknologi menjadi warga digital yang bertanggung jawab. Dunia digital bukan ruang bebas nilai. Ia adalah ruang sosial baru yang menuntut kedewasaan berpikir.
Jika sekolah ingin melahirkan generasi cerdas, maka literasi digital harus dipahami sebagai pendidikan karakter di era teknologi.
Komentar
Posting Komentar