Literasi Digital

Sarana Pengembangan Pendidikan Literasi

Cerpen:Ketika Cinta Menjadi Teknologi

Rumah itu berdiri sederhana di pinggiran kota. Dindingnya tidak dicat dengan warna mencolok, dan halamannya pun tidak luas. Namun, setiap orang yang melewati rumah tersebut dapat merasakan kehangatan yang terpancar dari dalamnya. Di sanalah Rizal tinggal bersama Ayah, Ibu, dan adiknya, Lita.

Bagi Rizal, rumah itu adalah tempat paling nyaman di dunia.
Setiap pagi, Ayah berangkat bekerja dengan sepeda motor tua kesayangannya. Ibu sibuk menyiapkan sarapan dan mengantar Lita ke sekolah dasar. Sementara Rizal, yang sudah duduk di bangku SMA, sering menghabiskan waktu luangnya dengan membaca buku teknologi atau menatap layar laptop kecil di kamarnya.

“Rizal, jangan lupa sarapan dulu,” panggil Ibu dari dapur.

“Iya, Bu. Sebentar,” jawab Rizal sambil menutup laptopnya.
Rizal memang dikenal sebagai anak yang cerdas dan pendiam. Ia tidak banyak bicara, tetapi pikirannya selalu penuh dengan ide. Ia sangat tertarik pada dunia teknologi, terutama kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, teknologi bukan sekadar alat canggih, tetapi bisa menjadi solusi bagi banyak masalah manusia.

Ayah sering tersenyum melihat kebiasaan Rizal itu.

“Belajar terus boleh, tapi jangan lupa istirahat,” kata Ayah suatu malam.
Rizal tersenyum. “Tenang, Yah. Rizal ingin membuat sesuatu yang bermanfaat suatu hari nanti.”
Ayah menepuk pundak Rizal dengan bangga.
Namun, kebahagiaan keluarga itu berubah ketika suatu sore, telepon rumah berdering keras. Ibu yang mengangkatnya tiba-tiba terduduk lemas.

“Ayah… Ayah kecelakaan,” ucap Ibu dengan suara bergetar.

Rizal terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Ia segera berdiri dan menghampiri Ibu.
“Ibu, Ayah kenapa?” tanyanya panik.
“Kita harus ke rumah sakit sekarang,” jawab Ibu sambil menahan air mata.
Malam itu, rumah sakit menjadi tempat yang sunyi dan menegangkan bagi Rizal. Ia melihat Ayah terbaring di ranjang, dengan selang dan alat medis terpasang di tubuhnya. Wajah Ayah tampak pucat, berbeda jauh dari biasanya.

Rizal menggenggam tangan Ayah pelan.

“Yah, cepat sembuh,” bisiknya.
Hari-hari berikutnya terasa berat. Rizal sulit berkonsentrasi di sekolah. Pikirannya selalu tertuju pada kondisi Ayah. Setiap hari, ia dan Ibu bergantian menjaga Ayah di rumah sakit.
Suatu malam, saat duduk sendirian di ruang tunggu, Rizal menatap layar ponselnya. Ia membaca artikel tentang teknologi kesehatan berbasis AI. Tiba-tiba, sebuah ide muncul di kepalanya.
“Bagaimana kalau aku mencoba membantu Ayah dengan caraku sendiri?” gumamnya.

Setibanya di rumah, Rizal membuka laptopnya. Dengan penuh semangat, ia mulai mencoba membuat program sederhana yang dapat mencatat data kondisi Ayah—seperti suhu tubuh, denyut nadi, dan jadwal obat—agar dokter lebih mudah memantau perkembangannya.

Namun, kenyataan tidak seindah bayangannya.
Kode program yang ia buat sering gagal. Data tidak terbaca dengan benar. Rizal menghela napas panjang berkali-kali.
“Aku tidak bisa… terlalu sulit,” keluhnya sambil memijat kepalanya.

Malam demi malam berlalu. Mata Rizal tampak lelah, tetapi hasil yang ia harapkan belum juga tercapai. Rasa frustrasi mulai menguasai dirinya.

Suatu malam, Ibu mengetuk pintu kamar Rizal.
“Rizal, kamu belum tidur?” tanya Ibu lembut.
Rizal menoleh. “Belum, Bu. Rizal gagal lagi.”
Ibu duduk di sampingnya dan melihat layar laptop.
“Kamu sedang apa?” tanya Ibu.

Rizal menarik napas. “Rizal ingin membuat program untuk membantu dokter memantau kondisi Ayah. Tapi Rizal belum bisa.”

Ibu tersenyum dan mengusap kepala Rizal.
“Tidak apa-apa gagal,” kata Ibu. “Yang penting kamu mencoba.”
“Tapi Rizal ingin membantu Ayah, Bu,” suara Rizal bergetar.
Ibu menggenggam tangan Rizal erat.
“Rizal sudah membantu dengan caramu sendiri. Sekarang, kita belajar bersama, ya.”

Sejak malam itu, Ibu menemani Rizal belajar. Mereka mencari referensi bersama, membaca artikel, dan menonton video pembelajaran. Ibu memang tidak memahami teknologi sepenuhnya, tetapi kehadirannya memberi kekuatan besar bagi Rizal.

“Kamu pasti bisa,” kata Ibu suatu malam. “Ibu percaya.”
Akhirnya, setelah berhari-hari berusaha, program itu berhasil dijalankan. Data kesehatan Ayah dapat dicatat dan ditampilkan dengan rapi. Dokter pun tertarik melihat hasil kerja Rizal.
“Ini sangat membantu,” kata dokter sambil tersenyum. “Kamu hebat.”

Rizal terkejut sekaligus bahagia.

“Terima kasih, Dok,” jawabnya pelan.
Perlahan, kondisi Ayah membaik. Senyum mulai kembali menghiasi wajahnya. Beberapa minggu kemudian, Ayah diperbolehkan pulang.
Saat tiba di rumah, Ayah memeluk Rizal erat.
“Terima kasih, Nak,” kata Ayah dengan suara haru. “Ayah bangga padamu.”

Rizal menahan air mata. “Rizal hanya ingin Ayah sembuh.”

Sejak kejadian itu, Rizal menjadi lebih dekat dengan keluarganya. Mereka lebih sering berbincang, tertawa, dan melakukan hal-hal sederhana bersama. Rizal menyadari bahwa teknologi memang penting, tetapi cinta keluarga jauh lebih berharga.
Suatu malam, saat mereka menonton film bersama, Lita berkata polos, “Mas, nanti bikin robot yang bisa jaga Ayah lagi, ya.”
Semua tertawa.

Rizal tersenyum. Dalam hatinya, ia berjanji akan terus belajar dan menggunakan pengetahuannya untuk kebaikan. Ia percaya bahwa dengan kerja keras, kesabaran, dan dukungan keluarga, ia dapat membuat perubahan—sekecil apa pun—bagi orang lain.

Bagi Rizal, keluarga bukan hanya tempat pulang, tetapi juga sumber kekuatan terbesar dalam hidupnya.

Komentar