Literasi Digital

Sarana Pengembangan Pendidikan Literasi

Jujurly", Kita Perlu Bicara Soal Bahasa Media Sosial: Evolusi atau Degradasi?

 Jujurly", Kita Perlu Bicara Soal Bahasa Media Sosial: Evolusi atau Degradasi?

Pernahkah kamu merasa bingung saat membaca kolom komentar TikTok atau Twitter (sekarang X)? Kamu mungkin menemukan kalimat seperti: "Plis, spill teh-nya dong, jangan gatekeep! Gue udah fomo banget nih, ygy."

Jika kamu membaca kalimat di atas dan mengangguk paham, selamat! Kamu adalah warga digital yang fasih. Namun, jika kamu mengerutkan kening dan butuh waktu lima menit untuk mencernanya, jangan khawatir. Kamu tidak sendirian.

Bahasa di media sosial telah berkembang menjadi entitas yang unik, liar, dan sangat cepat berubah. Bagi sebagian orang, ini adalah bentuk kreativitas tanpa batas. Bagi yang lain (biasanya guru Bahasa Indonesia atau editor buku), ini bisa jadi mimpi buruk.

Pertanyaannya: Apakah fenomena ini merusak bahasa kita, atau justru tanda bahwa budaya kita sedang berevolusi? Mari kita bedah fenomena ini dengan kacamata santai tapi berisi.

1. Kecepatan adalah Raja: Era Singkatan dan Akronim

Alasan utama kenapa bahasa media sosial begitu unik adalah keterbatasan ruang dan waktu. Dulu, SMS membatasi kita dengan 160 karakter. Sekarang, Twitter membatasi cuitan, dan fitur caption atau story menuntut kita untuk menyampaikan pesan secepat kilat sebelum audiens melakukan scroll ke konten berikutnya.

Inilah yang melahirkan budaya akronim dan singkatan ekstrem.

YGY: Ya Guys Ya.

TBL: Takut Banget Loh.

FOMO: Fear of Missing Out (Takut ketinggalan tren).

JBJB: Janji Gak Janji (atau kadang diartikan 'Join Bareng').

Secara linguistik, ini adalah bentuk efisiensi komunikasi. Otak kita beradaptasi untuk memproses informasi visual (teks) secepat mungkin. Jadi, alih-alih mengetik "Menurut pendapat saya yang jujur," kita cukup mengetik "TBH" (To Be Honest) atau "IMHO" (In My Humble Opinion). Hemat jempol, hemat waktu.

2. Campur Kode: Fenomena "Anak Jaksel" yang Mengglobal

Ingat tren bahasa anak Jakarta Selatan? "Which is", "Literally", "Prefer". Dulu ini sering jadi bahan olok-olokan. Namun sadar atau tidak, gaya bahasa campuran (Indonesia-Inggris) kini sudah menjadi standar tidak tertulis di media sosial nasional.

Dalam ilmu linguistik, ini disebut Code-Switching atau Alih Kode. Ini bukan berarti kita tidak cinta Bahasa Indonesia. Fenomena ini terjadi karena paparan konten global yang masif. Ada konsep atau perasaan tertentu yang terkadang lebih "kena" (mengena) jika disampaikan dalam Bahasa Inggris.

Contohnya kata "Healing". Kata ini punya nuansa yang lebih santai dan aesthetic dibandingkan kata "Pengobatan" atau "Pemulihan". Atau kata "Support System" yang terasa lebih modern daripada "Sistem Pendukung". Bahasa media sosial meminjam kata-kata asing untuk memperkaya nuansa emosi yang ingin disampaikan.

3. Bahasa sebagai Identitas Kelompok (Slang)

Bahasa media sosial juga berfungsi sebagai tanda pengenal. Menggunakan kata-kata seperti "Skena", "Kalcer", "Menyala Abangkuh", atau "Red Flag" menunjukkan bahwa kamu adalah bagian dari kelompok yang update.

Jika kamu tidak mengerti istilah tersebut, kamu akan merasa terasing (out of the loop). Bahasa gaul internet (internet slang) menciptakan rasa kebersamaan (sense of belonging). Ketika netizen berkomentar "Menenangkan gejolak batin" atau menggunakan meme yang sama, mereka sedang membangun ikatan sosial digital. Mereka merasa "satu frekuensi".

4. Apakah Bahasa Baku Kita Terancam Punah?

Ini adalah kekhawatiran terbesar para puryawan bahasa. "Anak zaman sekarang tidak bisa membedakan 'di' sebagai kata depan dan 'di' sebagai awalan!"

Tenang dulu. Faktanya, manusia itu adaptif. Kita memiliki kemampuan yang disebut Diglosia, yaitu kemampuan menggunakan ragam bahasa yang berbeda sesuai dengan situasinya.

Anak muda Gen Z mungkin mengetik "ak mw prgi bntr ygy" di WhatsApp grup teman, tapi mereka (seharusnya) tahu untuk tidak menulis begitu di surat lamaran kerja atau skripsi. Masalah muncul bukan karena adanya bahasa gaul, tapi ketika seseorang gagal menempatkan bahasa sesuai konteksnya.

Bahasa media sosial tidak "membunuh" Bahasa Indonesia baku. Ia hanya hidup berdampingan di "kamar" yang berbeda. Bahasa baku untuk ruang formal, bahasa sosmed untuk ruang ekspresi bebas.

5. Nada yang Hilang dan Peran Emoji

Satu hal menarik lainnya: Teks di media sosial tidak memiliki nada suara. Kita tidak bisa mendengar intonasi marah, sedih, atau bercanda.

Di sinilah peran tanda baca non-standar dan emoji.

Mengetik dengan HURUF KAPITAL SEMUA artinya berteriak.

Mengetik huruf kecil semua (tanpa kapital di awal kalimat) sering dianggap lebih aesthetic, ramah, atau sendu.

Emoji tengkorak (💀) bukan berarti mati, tapi berarti "ngakak sampai mampus" atau hal yang konyol.

Emoji menangis (😭) seringkali berarti tertawa terbahak-bahak, bukan sedih.

Ini membuktikan bahwa bahasa media sosial sangat kaya. Kita memanipulasi teks dan simbol untuk menggantikan ekspresi wajah dan nada bicara yang hilang di dunia maya.

Kesimpulan: Nikmati Saja Arusnya!

Bahasa adalah organisme yang hidup. Ia tumbuh, berubah, dan beradaptasi mengikuti penggunanya. Bahasa media sosial yang kita lihat hari ini adalah cerminan dari budaya kita yang serba cepat, terhubung secara global, dan ekspresif.

Mungkin 10 tahun lagi, kata "YGY" atau "Slay" akan terdengar kuno, digantikan oleh istilah baru yang dibawa oleh generasi Alpha. Dan itu wajar.

Jadi, tidak perlu terlalu kaku menanggapi fenomena ini. Selama kita masih tahu kapan harus menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar (sesuai konteks formal), sah-sah saja untuk bersenang-senang dengan bahasa gaul di media sosial.

Lagipula, hidup terlalu singkat untuk pusing mikirin grammar saat mau posting foto kucing, kan?

Sudut Interaksi: Istilah media sosial apa yang paling sering kamu pakai tapi sebenernya kamu nggak ngerti-ngerti banget artinya? Atau ada istilah baru yang bikin kamu geleng-geleng kepala? Drop komentar kamu di bawah, bestie! 👇

Komentar