Opini: Ketika Film Horor Masuk Sekolah: Di Mana Peran Literasi Digital?
Ketika Film Horor Masuk Sekolah: Di Mana Peran Literasi Digital?
Beberapa waktu lalu, saya mendengar cerita tentang sebuah madrasah menengah yang kedatangan tim promosi film horror. Mereka tidak sekadar membawa poster besar, membagikan brosur, bahkan menawarkan potongan harga tiket bagi siswa. Sekilas, mungkin tampak sebagai kegiatan promosi biasa. Tapi bagi saya, ini bukan perkara sepele. Ada sesuatu yang janggal
ketika dunia pendidikan mulai menjadi lahan promosi hiburan yang tidak selalu mendidik.Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman untuk menanamkan ilmu dan nilai, bukan pasar yang terbuka untuk segala bentuk promosi. Apalagi jika yang dipasarkan adalah film berlabel 17 tahun ke atas, dengan konten mistik, ritual gaib, atau kisah tumbal yang jelas tidak pantas untuk anak sekolah.
Masalah Usia dan Nilai yang Terganggu
Lembaga Sensor Film (LSF) sudah menetapkan klasifikasi tontonan berdasarkan usia. Ketika sekolah justru memfasilitasi kegiatan promosi film yang belum sesuai umur, maka lembaga pendidikan itu tanpa sadar melanggar prinsip dasar perlindungan anak.
Ini bukan sekadar soal administrasi. Ini soal etika. Sekolah seharusnya jadi benteng nilai, bukan perpanjangan tangan industri hiburan. Ketika lembaga pendidikan menerima tawaran promosi hanya karena iming-iming diskon atau fasilitas tertentu, artinya sekolah mulai kehilangan arah: fokusnya bukan lagi mendidik, tapi mencari keuntungan kecil yang mengorbankan nilai besar.
Benturan dengan Nilai Agama dan Moral
Guru agama di sekolah tentu tidak mudah mengajarkan konsep ketauhidan dan menjauhi takhayul, sementara di luar sana anak-anak disuguhi film yang menormalisasi perjanjian dengan makhluk halus atau mencari kekuatan gaib untuk menyelesaikan masalah.
Anak-anak dan remaja belum sepenuhnya bisa memilah antara realitas dan fiksi. Akibatnya, mereka bisa salah menafsirkan pesan film: seolah hal-hal gaib itu benar-benar nyata dan bisa diandalkan. Perlahan, rasa takut dan kepercayaan yang keliru bisa tumbuh tanpa disadari.
Inilah yang membuat saya khawatir. Pendidikan yang seharusnya memperkuat logika dan iman, justru bisa terganggu oleh paparan hiburan yang salah arah.
Komersialisasi Ruang Sekolah
Masuknya promosi film ke sekolah memperlihatkan gejala baru: komersialisasi ruang pendidikan. Sekolah yang seharusnya steril dari kepentingan bisnis, kini justru mulai terbuka bagi pihak luar dengan berbagai alasan.
Memang, sebagian pihak mungkin beranggapan promosi itu hanya hiburan atau selingan. Tapi kita perlu jujur: apakah kegiatan semacam ini benar-benar mendidik? Apakah pantas sekolah dijadikan tempat promosi film yang mengandung unsur mistik dan kekerasan?
Keputusan untuk menerima promosi seharusnya bukan perkara sepele. Kepala sekolah dan guru perlu bertanya: apakah ini sesuai dengan nilai pendidikan dan usia siswa? Bagaimana pandangan orang tua? Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu tidak jelas, lebih baik ditolak sejak awal.
Dampak Psikologis dan Sosial
Paparan film horor pada usia remaja bisa menimbulkan dampak jangka panjang. Rasa takut berlebihan, mimpi buruk, hingga keyakinan terhadap hal-hal yang tidak rasional bisa muncul. Lebih jauh, anak-anak bisa kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang rekaan.
Di sisi lain, film semacam itu juga bisa mengaburkan nilai moral. Kekerasan dan kematian sering digambarkan secara estetis dan menarik, sehingga anak-anak tanpa sadar menganggapnya hal biasa. Ini berbahaya bagi perkembangan mental mereka.
Sekolah Harus Tegas
Sudah saatnya sekolah mengambil sikap tegas. Setiap tawaran kerja sama promosi harus disaring ketat. Bentuk kerja sama yang tidak sesuai usia, bertentangan dengan ajaran agama, atau berpotensi menimbulkan gangguan psikologis bagi siswa harus ditolak tanpa kompromi.
Langkah sederhana bisa dimulai dengan membentuk tim kecil di sekolah—terdiri dari guru agama, guru BK, dan perwakilan orang tua—untuk memutuskan apakah sebuah promosi layak diterima. Pemerintah daerah juga perlu membuat pedoman agar sekolah tidak mudah dimasuki kegiatan komersial tanpa nilai edukatif.
Kalaupun anak-anak sudah terlanjur tahu tentang film semacam itu, guru sebaiknya memanfaatkan momen tersebut untuk berdiskusi. Ajak siswa menganalisis isi film dari sisi logika, etika, dan akidah. Dengan begitu, mereka belajar kritis dan tidak menelan mentah-mentah pesan yang mereka lihat di layar.
Menjaga Marwah Pendidikan
Sekolah bukan tempat menjual tiket atau promosi hiburan. Sekolah adalah tempat menanamkan nilai dan membangun karakter. Ketika lembaga pendidikan kehilangan fokus, maka kita semua yang akan menanggung akibatnya.
Menolak promosi film horor bukan berarti anti-hiburan. Ini soal menjaga integritas pendidikan. Dunia pendidikan harus tetap berpihak pada akal sehat, moral, dan masa depan anak-anak kita. Karena mereka bukan konsumen, melainkan generasi yang sedang dibentuk untuk menjadi manusia berilmu dan beriman.
Komentar
Posting Komentar